[Jurnal Online Pembelajaran Minggu Ke-2 Bulan Maret 2025] Siswa Kelas X-7 dan Kelas X-9 Mengikuti Pembelajaran Sosiologi Dengan Topik Masyarakat Majemuk dan Multikurtural


 Pembelajaran Mata Pelajaran Sosiologi Siswa Kelas X-7 dan X-9
Memahami Masyarakat Majemuk dan Multikurtular

[Sasaran Kinerja Pegawai - SKP] Minggu Ke-2 Bulan Maret 2025

Siswa kelas X-7 dan X-9 SMA Negeri 1 Bojonegoro mengikuti pembelajaran Sosiologi berfokus pada topik Masyarakat Majemuk dan Multikurtural pada pertemuan minggu ke-2 bulan maret 2025. Dalam sesi pembelajaran hari ini, guru memberikan pemaparan tentang pengenalan konsep masyarakat majemuk dan multikurtural serta beberapa penjelasan pandangan pendapat dari beberapa ahli sosiologi terkait masyarakat majemuk dan multikultural diantaranya ada JS Furnivall, Nasikun, Pierre L Van Den Berghe, dan Clifford Geertz. .

Aktivitas pembelajaran yang akan diimplementasikan:
  1. Pengenalan konsep masyarakat majemuk dan masyarakat multikultural
  2. Diskusi kelompok tentang contoh masyarakat majemuk di Indonesia
  3. Presentasi tentang masyarakat multikultural 
  4. Analisis kasus tentang pentingnya memahami dan menghargai perbedaan budaya
Hasil Pembelajaran:
  1. Siswa diharapkan dapat memahami konsep masyarakat majemuk dan masyarakat multikultural
  2. Siswa diharapakan dapat mengidentifikasi contoh masyarakat majemuk di Indonesia
  3. Siswa diharapkan dapat memahami pentingnya memahami dan menghargai perbedaan budaya
Materi Pembelajaran:

JS Furnivall, seorang ahli sosiologi, mengembangkan konsep masyarakat majemuk dengan melihat bagaimana kelompok-kelompok dalam masyarakat yang terdiri dari berbagai etnis, budaya, dan agama berinteraksi satu sama lain. Berikut penjelasan dari kategori masyarakat majemuk menurut JS Furnivall:
  1. Masyarakat Majemuk dengan Kompetisi Seimbang
    Dalam kategori ini, tidak ada kelompok yang lebih dominan atau memiliki kekuatan yang lebih besar daripada kelompok lainnya. Semua kelompok memiliki peluang yang sama dalam hal sosial, ekonomi, dan politik. Ini adalah masyarakat di mana pluralisme berkembang dengan baik, dan interaksi antar kelompok berlangsung secara adil dan seimbang.

  2. Masyarakat Majemuk dengan Mayoritas Dominan
    Pada masyarakat ini, terdapat satu kelompok mayoritas yang memiliki kekuasaan dominan atas kelompok-kelompok minoritas. Kelompok mayoritas memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kebijakan sosial, politik, dan ekonomi, sementara kelompok minoritas mungkin menghadapi diskriminasi atau marginalisasi.

  3. Masyarakat Majemuk dengan Minoritas Dominan
    Kebalikan dari kategori sebelumnya, dalam masyarakat ini, kelompok minoritas memiliki dominasi atau pengaruh yang lebih besar dalam berbagai bidang, seperti politik dan ekonomi. Meskipun mereka lebih sedikit jumlahnya, mereka memiliki kontrol yang kuat terhadap struktur sosial dan kebijakan negara.

  4. Masyarakat Majemuk dengan Fragmentasi
    Dalam kategori ini, masyarakat terfragmentasi menjadi kelompok-kelompok kecil yang saling terpisah tanpa interaksi atau hubungan yang erat antara satu dengan yang lainnya. Tiap kelompok cenderung mempertahankan identitas dan budaya mereka sendiri, dan integrasi sosial sangat terbatas. Fragmentasi ini dapat menyebabkan ketegangan dan konflik antar kelompok.
Menurut Nasikun, masyarakat majemuk adalah masyarakat yang terdiri dari dua atau lebih komunitas atau kelompok sosial yang secara kultural, ekonomi, dan politik terpisah-pisah serta memiliki struktur dan kelembagaan yang berbeda-beda.

Dalam masyarakat majemuk, perbedaan ini sering kali menyebabkan keterbatasan interaksi sosial antar kelompok, sehingga masyarakat menjadi terfragmentasi. Ciri utama dari masyarakat majemuk menurut Nasikun meliputi:
  • Terpisah secara Kultural
    Setiap kelompok memiliki budaya, adat istiadat, bahasa, dan nilai-nilai yang berbeda. Mereka cenderung mempertahankan identitas masing-masing tanpa adanya integrasi yang kuat dengan kelompok lain.
  • Terisolasi secara Ekonomi
    Kelompok-kelompok dalam masyarakat majemuk sering kali memiliki sektor ekonomi yang berbeda dan tidak saling terkait. Misalnya, dalam beberapa negara, kelompok tertentu mendominasi sektor perdagangan, sementara kelompok lain lebih banyak bekerja di sektor pertanian atau buruh.
  • Terpisah dalam Struktur Politik
    Kelompok-kelompok dalam masyarakat majemuk cenderung memiliki kepentingan politik yang berbeda dan sering kali tidak memiliki akses yang setara terhadap kekuasaan. Hal ini bisa menciptakan ketimpangan dalam kebijakan pemerintahan dan potensi konflik politik.
  • Perbedaan dalam Kelembagaan
    Setiap kelompok dalam masyarakat majemuk memiliki sistem kelembagaan sendiri, baik dalam aspek sosial, hukum, maupun agama. Misalnya, ada kelompok yang memiliki aturan adat sendiri yang berbeda dari kelompok lain, sehingga hubungan sosial tidak terjalin secara erat.
Masyarakat majemuk seperti ini sering kali menghadapi tantangan dalam membangun kesatuan nasional karena perbedaan yang ada bisa menimbulkan konflik, diskriminasi, dan ketidaksetaraan dalam berbagai aspek kehidupan.

Menurut Pierre L. Van den Berghe, masyarakat majemuk memiliki beberapa ciri utama, yaitu:
  1. Segmentasi dalam Kelompok yang Berbeda
    Masyarakat terbagi ke dalam berbagai kelompok yang memiliki perbedaan budaya, etnis, agama, atau ras.
  2. Kurangnya Konsensus secara Keseluruhan
    Tidak ada kesepakatan umum mengenai nilai-nilai fundamental karena perbedaan latar belakang kelompok yang ada.
  3. Struktur Sosial yang Bersifat Non-Komplementer
    Interaksi sosial lebih banyak terjadi dalam kelompoknya masing-masing, bukan secara menyeluruh dalam masyarakat.
  4. Dominasi Politik oleh Kelompok Tertentu
    Biasanya ada satu kelompok yang mendominasi politik dan pemerintahan, sementara kelompok lain memiliki pengaruh yang lebih kecil.
  5. Integrasi Sosial yang Cenderung Dipertahankan oleh Paksaan
    Persatuan dalam masyarakat majemuk sering kali lebih bersifat administratif atau dipertahankan oleh kekuatan negara, bukan secara alami.
  6. Kesadaran Keanggotaan dalam Kelompok yang Kuat
    Individu lebih merasa terikat dengan kelompoknya sendiri daripada dengan masyarakat secara keseluruhan.